berawal
dari dumai (dunia maya). awalnya aku hanya iseng membuka situs social yang
membuatku heran "sociasinggle" ya sociasinggle lah yang mempertemukan
kita. dan dari situ awal senyumku mulai terukhir. Setelah kejadian yang aku
alami dimasalalu yang sempat membuat aku terpaku dan berlaku dingin terhadap
semua pria. mungkin segelintir orang menganggap biasa apa yang terjadi
dimasalaluku bahkan tak banyak yang keenakkan dan sengaja mencicipi
terus-terusan dosa yang bahkan akan menghancurkan masa depannya itu. aku tak
pernah membayangkan kenapa dulu aku rela memberikan harta seorang wanita yang
seharusnya diberikan hanya untuk suaminya? hanya karna rasa sayang? tapi,
sekarang penyesalan tiada guna. perkenalanku tak cukup hanya bercakap
menyebutkan nama saja. dia pun tak lupa menanyakan nomor hand phoneku. entah
apa yang membuat tanganku mengangayunkan jarinya mengetik beberapa angka di
pesan sociasinggle. kita pun saling lebih dalam mengenal satu sama lain. aku
tak pernah bergikir hubungan pertemananku berakhir status yang mengikat. bahkan
tak ada harapanku untuk menggantikan sosok yang bahkan kukenal brengsek dan
kejam itu. dia pergi setelah mencicipi tubuhku. pikirku setelah
kesalahan itu terjadi dimasalaluku, aku menganggap semua pria sama saja. Bualan
manis, dengan tatapan lembut, hingga sampai pada permintaan yang sulit dicerna
akal sehat. Apakah aku harus mempercayai pria yang baru masuk di hidupku? Sulit.
Ya sangat sulit.
Wajarkah
jika aku belum lupa? Bukan masih sayang dan mengharapkannya kembali. Hanya saja
kesalahanku masih terngiang ditelingaku, seakan suara Tuhan yang lembut mencoba
sesekali menegurku. Itu yang selalu menyita moodku. Ah.. aku tak mau terus jatuh.
Aku harus bangkit. Tak bisa ku pungkiri dia yang di jauh sana sedikit demi
sedikit mengambil hatiku.
Apakah
salah aku mulai menyayangi orang yang bahkan tak pernah kutatap langsung
matanya, senyumnya pun hanya kulihat di foto social media di dumai. Kenapa terasa
menggelitik perasaanku. Perasaan yang tak bisa dijelaskan, tapi nyata aku
rasakan.
Kehadirannya
mampu membuat hatiku mencair. Tapi, memang ada rasa cemburu, curiga yang
menghantui dan membisik batinku. Ah.. sebaiknya aku tak mau terlalu percaya. Toh
siapa tahu dia selingkuh di sana? Ya selingkuh. Mungkin. Rasa sayang ini tidak
dibarengi kejujuranku akan bagaimana aku dimasalaluku. Aku tak pernah berfikir
menceritakan masalaluku, toh aku tak tahu smpai kapan aku bertahan dengan dia. Sampai
saatnya aku semakin terpuruk menyembunyikan itu semua, hatiku bahkan tak tega
menyembunyikan sesuatu dari orang yang bahkan sudah menyita keseriusanku. Dan akhirnya
aku tak sadar apa yang telah membuat mulutku mengungkapkan aibku. Dia tercengang,
kecewa.. dan menangis? Aku mendengar isakkan kecil diujung telfonku. Mungkinkah
dia menyesal mengenalku dan menyayangiku? Aku tak peduli, aku sudah iklas
apapun yang dikatakan dia nantinya. Tapi akhirnya dia mengambil nafas dan
bilang “apapun yang terjadi dimasalalumu, aku tak peduli. Aku takkan
meninggalkanmu karna itu.” Kalimat singkat yang mampu menjatuhkan airmata yang
tak sanggup lagi dibendung mataku. Tangisku kecil, namun air yang keluar dari
mataku seakan berteriak keluar dan bercucuran tanpa henti.
Aku
mulai sadar. Ku terobos jalan pikiranku yang waktu itu hamburadul dan terdengar
bisikkan kecil ditelingaku. Entah itu darimana. Bisikkan “dia yang terbaik”. Tapi
aku yakin itu dari hatiku. Mungkin. Aku takkan menyia-nyiakannya. Dan sekarang
aku berharap pria yang pernah membuatku melakukan kesalahan dimasalaluku tahu. Aku
mampu bahagia dan tersenyum lepas tanpa dia. Ya tanpa dia dihidupku. Yang aku
impikan sekarang, aku ingin memeluk sosok yang telah mampu getarkan hatiku,
kembalikan senyumku. Kapan aku bertemu sosoknya langsung? Kapan? Aku selalu
menunggu dengan setia hari itu.. :’)
Komentar
Posting Komentar