Hari yang agak mendung, biasanya aku malas berangkat kesekolah. Tapi
entah apa yang membuatku bersemangat menggendong tasku menuju koridor kelas.
Pandangan mataku sampai pada seseorang yang duduk di depan kelas, panggil saja
Rehan. Ya aku mulai mengaguminya dan sedikit mencuri-curi pandangan. “Dia
memandangku!” salting saat matanya menuju tajam kemataku. Aku tersenyum malu.
Dia memalingkan mukanya dengan acuh. “huh!” desusku kesal.
Aku memang mulai dekat dengan dia, tapi bukan
sebagai “aku”, aku menyamarkan namaku agar dia tak tahu. Entah apa
yang aku pikirkan. Dia memang mulai memperhatikan diriku yang lain. Tapi, bukan
aku Clara! “ahhhhh… Clara goblokkk!!!!” kesal sambil menjambak pelan rambutku.
***
“Halo” kata orang diseberang sana. “Halo” jawabku
sambil menutupi mulut dengan sapu tangan. “Kamu lagi apa?” tanyanya lembut. Itu
pertanyaan yang singkat, tapi menyita senyumku. “Lagi duduk aja” jawabku dengan
suara manja. “Vin.. ada yang aku mau omongin, kita ketemu bisa?”. Mulutku menganga
saat permintaan itu mulai terlontar dari mulutnya. “Apa lagi yang jadi
alasanku?” tanyaku dalam hati. Memang aku menyembunyikan jejakku, fotoku pun
saat dia minta aku tak kasih. Aku mulai bingung. “Vin!” panggilnya. “iya?”
“kamu sibuk? Atau kamu gak mau ketemu?” tanyanya lagi. Pertanyaan itu seakan
menghujani pikiranku. Aku bingung harus jawab apa. “ya udah, kalau kamu gak mau
dan bingung mau alasan apa. Gak usah gak apa” katanya lembut. “tapi aku bener
mau ngomong penting! Bisa aku bicara sekarang?” tanyanya lagi. “eh.. i..iya
deh” jawabku terbata-bata. Sebenarnya aku gak enak menolak ajakan Rehan lagi
untuk ketemu. Tapi, tidak mungkin aku menemuinya dengan dua pribadi yang
dikenalnya berbeda tetapi sebenarnya sama. Dia mulai berbicara. “Vin, aneh gak kalau
misalnya kamu sayang sama orang yang belum pernah kamu lihat? Hanya dengar
suaranya, baca smsnya. Itu aja” tanyanya. Pertanyaan itu serasa membuatku
termangu. Apa yang dimaksudkan dia aku ‘Vina’ ?. tapi aku mulai menjawab
semampuku. “menurutku aneh, tapi cinta itu tak beralasan dia bisa datang bagai
api dalam kedinginan atau hujan dalam kemarau panjang, siapa pun tak bisa
menolaknya” jawabku. Dia diam.
Aku tak mengerti apa pertanyaannya. Pertanyaan itu
seperti membangun harapanku. Dia tak memastikannya. Aku tidak tau apa
perasaanku sama dengan dia? Dia hanya diam.
***
Hari ini ada pelajaran olahraga,
otomatis aku berada di lapangan sekarang. Aku mulai lagi memandangnya. Entah
sejak kapan mata ini gatal saat tidak melihatnya, sepertinya sudah lama. Sampai
aku tak tahan membendungnya. Tapi, aku tak punya keberanian berkata jujur. Ku
lihat Rehan mendekat kearahku. ‘deg deg deg’ jantungku mulai berdetak tak
pasti. Apa ini?. Dia tersenyum dan duduk didepanku. “boleh aku minta air
minummu?” tanyanya menujuk botol minuman di sampingku. “bo..boleh” jawabku
salah tingkah. Selesai minum, dia sepertinya tak punya niat untuk
pergi. Dia tetap di depanku. Menyibukkan diri dengan hand phonenya. Aku kaget
hand phoneku berbunyi. Lebih kagetnya saat Rehan menatapku dengan penuh tanda
Tanya dan muka yang kaget juga. Aku menoleh kelayar hand phoneku. Rehan
menelfonku. “kenapa gak lu angkat?” tanyanya dengan wajah selidik. Aku bengong
dan bingung. Bagaimana aku mengangkat telfonnya sedangkan dia yang menelfonku
ada di depanku?. Tapi tak lama kemudian dia pergi. Aku hanya bisa memasang muka
bingung melihat Dia pergi.
***
Dua hari ini aku tak mendengar kabarnya. Dia pun
tidak masuk sekolah, entah kenapa aku mulai menyesal. “apa dia marah?” tanyaku
pelan.
Hari ini aku memutuskan ke taman, mungkin tempat
itu yang mengerti perasaanku. Tapi saat aku sampai kesana. “Rehan?” aku kaget
saat melihat Rehan duduk di kursi dekat sungai yang tak jauh dari tempatku
berdiri. Aku memutuskan untuk berbalik tapi ada tangan yang mencegahku. “kau mau
lari lagi dari kejujuran?” Tanya Pria yang mencegahku pergi itu. Dia Rehan. Tak
ada pilihan lain, aku harus tinggal dan membiarkan waktu menyingkap
kejujuranku.
Aku dan Rehan mulai duduk di tepi sungai. Aku mulai
takut. Dia menatapku sedari tadi. “hmm, maafkan aku, aku takut” kataku singkat.
Aku tak tahu harus bilang apa untuk mengawali kejujuranku. “apa yang kau
takutkan? kamu tahu gak, aku tahu sejak awal. Aku cuek, tapi aku juga
memperhatikanmu saat kau tak menyadari kehadiranku. Aku juga yang menaruh nomor
hand phoneku di bawah lokermu. Aku malu untuk menanyakan nomormu, makanya aku
memastikan kau butuh juga nomorku dengan melakukan hal itu.” Katanya
menjelaskan. Aku hanya melongo. “hmm, lagi.. saat kamu sms aku tuh sebenernya
nomormu sudah terdaftar di hand phoneku, karena kemarinnya aku minta keteman
dekatmu! Aku tahu itu kau, selama satu bulan lebih ini. Vina yang sebenarnya
Clara” katanya lagi. “maafkan aku” kataku sambil tertunduk menyesal. Aku tahu
yang aku perbuat salah, dan aku harus terima apapun yang di tentukan sang
waktu.
Dia mulai mengangat wajahku dengan tangannya pelan.
“lihat aku” aku melihat matanya dengan ragu. Dia menghela nafas dan mulai
berbicara lagi. “Vina atau Clara, apapun namamu yang kau sebut.. yang aku
sayang Cuma satu” “maksudmu?” tanyaku kaget. “aku sayang kamu” katanya dengan
pasti. Wajahku pucat, sepertinya aku lelah untuk bernafas saat itu. Aku merasa
sejuk dan pandangan yang lurus kematanya tanpa keraguan. “ini seperti mimpi!”
kataku dalam hati. “Clar?” paggilnya memudarkan lamunanku. “ehh, maaf.. aku
juga sayang kamu!” kataku tersenyum malu. Dia mulai memelukku erat.
“Jadi mana yang kamu pilih?” “maksud kamu?”
tanyanya lagi dengan heran. “mana yang kamu pilih, aku atau aku?” tanyaku. Dia
diam dan setelah itu tertawa lepas, tangannya mengorak-arik poniku.
Hari itu aku tahu, apa pentingnya kejujuran……. saat aku mengatakan kejujuran, saat itu cinta yang murni akan mengalir. bukan aku yang dicintai karena diriku yang lain, tapi aku yang dicintai dengan apa adanya aku sekarang.
Komentar
Posting Komentar