Langsung ke konten utama

"CINTA TAK SEADIL WAKTU"

Aku tahu cintaku dan dia tulus, sudah empat tahun ini aku mengenal sesosok pria yang merenggut separuh nafasku itu. Dia pun terus-menerus meyakinkan aku, betapa berartinya aku dihidupnya. Semua itu Nampak nyata saat dikenalkan aku dengan dua orang separuh baya yang sudah membesarkan dia dua puluh enam tahun. Semua tampak pasti!

Seakan tak mau dia pergi, aku selalu menyisihkan egoku sesaat jika cemburuku meledak. Aku ingin terus menjaga perasaannya. Pria yang keras itu bisa membawa hidupku sejauh ini. Beberapa omongan miring sempat bergelanyutan dipikiranku. Aku sempat bertanya. Dia hanya diam. Saat itu aku berfikir dia tak akan melakukan itu dan semua omongan itu adalah asumsi salah beberapa orang!

satu oktober adalah disaat hubunganku dengan pria itu semakin erat. Aku bertunangan dengan dia. Saat itulah aku yakin “inilah pria terakhir dihidupku!” kataku pasti.

Hari pun mulai berlalu.. aku masih merasa nyaman sampai seseorang  gadis datang dihidupnya. Beberapa minggu ini pekerjaannya membuatnya dekat dengan salah satu rekan kerja dikantornya. Aku percaya dia bukan penghalang dan cobaan! Tapi anggapanku salah. Semakin salah waktu sifat pria itu berubah dan mendadak kasar saat aku berbagi cerita sedihku tentang kedekatannya dengan gadis itu belakangan ini.

Aku tak mengerti. Aku termenung saat kubayangkan kemarin dia mengayunkan tangannya mendekat kepipiku. Dia tak sekasar itu dulu. Apakah ini pertanda hatinya mulai berpaling? Atau dia hanya tak suka kalau aku selalu berprasangka buruk tentang kedekatannya. Aku hanya berfikir. “Dia berbeda!” isakkanku mulai didengar wanita yang mendekat dan memelukku. “sabar nak” kata-kata itu sesekali menguatkanku. Aku masih bisa bertahan.

***

Hari ini aku memutuskan untuk kekantornya. Membawa serantang makanan di tas kecil yang kusandang. Aku hanya mengawatirkan kesehatannya.

Sesampainya disana aku kaget. Wanita itu kulihat duduk dimejanya dengan senyuman manis. Kedua kakinya besilang seperti menggoda burung merak jantan dengan pesonanya. Pria itu tampak santai dan dibalas senyum itu dengan berbagai untaian manis. Aku hanya diam melihat semua terjadi.

Aku masih tak percaya. seseorang yang aku kenal yang tak bisa dibilang sebentar itu, ternyata tampak membuka hatinya kepada wanita lain. “Apa ini mimpi?” tanyaku lirih dan meninggalkan kantor itu.

***

Aku meminta dia menemuiku hari ini. Aku ingin meminta penjelasan akan semua yang terjadi. Semua yang ku lihat tak bisa tersaring dihatiku bahkan ampasnya membuat hatiku berdarah.

Aku menatapnya lekat. Dia hanya diam. “apa yang mau kau katakan?” tanyanya tanpa basa-basi. Aku mencoba sebisa mungkin menahan emosiku dan mencoba tetap tersenyum. “apa yang kau inginkan dari hubungan kita?” tanyaku. Aku berharap dia menjawab sesuai keinginan hatiku dan semua baru tampak adil. Dia tampak membuka mulut dan mulai berbicara. “mungkin merpati tak selamanya setia dengan pasangannya jika ada merpati betina lain menggodanya!” jawabnya. Seakan tak bisa mempersalahkan waktu, aku masih berharap saat ini aku sedang tertidur dan apa yang aku dengar sekarang adalah bunga tidurku.

Apa yang dia pikirkan? Apa memang dia adalah merpati yang tak bisa menahan pesona betina  lainnya saat dia mulai setia kepada pasangannya? “Ini tampak tak adil” sesekali kata-kata itu membuat hatiku meledak. Saat itulah jalan pikiranku mulai hamburadul. Aku membiarkan dia pergi dengan tatapan kosongku.

Cinta tampak tak adil. Wanita yang sudah mememaninya dan mengenalnya lebih dalam daripada wanita lain malah sengaja dibuang dan diacuhkan. Dia pernah berjanji dengan lantang dan gagahnya akan membawaku lebih jauh dari sekarang. Omongannya tak lebih dari sampah sekarang. Jika aku bisa memutar waktu, lebih baik aku tak memberi hatiku dulu. Ya,.. jika aku tau akan terjadi seperti ini.


Saat itu pengorbananku tampak tak berarti. Aku mencoba memperbaiki hati namun tak bisa membawa pulang tawa. Aku serasa orang asing dikebahagiaan. Aku pulang dengan hati tak utuh.

Komentar