Matahari mulai enggan menampakkan sinarnya, di ganti beraninya
bulan menengok keluar dan tersenyum menyambut malam tiba. Aku selalu disibukkan
dengan melihat benda mungil yang selalu ada di tanganku. Setiap layar benda
tersebut menyala, aku berharap terselip pesan singkat dari orang disebarang
sana. Aku merasa rindu yang mendalam, dan selalu muncul pertanyaan “apakah dia
merindukanku?”
Tepat jam 00:20 dia menelfon, “Hanimonth 3” katanya lembut. Biasanya
bulan lalu aku yang mengatakannya. Mungkin dia selalu mengingatku, mungkin. Suatu
saat, saat kita bertemu. Aku takkan menyia-nyiakan waktuku tanpa dia. Aku akan
memandang lekat wajah lembutnya, mendengar suara sendunya yang selalu aku
dengar lewat telephone.
01 Junli: Aku merencanakan pulang ke kampung halaman, entah
apa yang memaksaku kesana, mungkin orang yang mengatakan akan menungguku, aku
ingin bertemu dengannya.
Sampai disana kita memutuskan untuk bertemu, aku dan dia. Ya
seorang yang dibalik telephone itu. Dia sudah membawa hatiku sejauh ini. Aku tak
pernah berfikir, keseriusanku pun dia sita. Mungkinkah ini yang terakhir? Aku
hanya berani bilang “amin”.
Kita, aku dan dia. Berjalan menelusuri jalan setapak di
pinggir pantai. Tangannya menyentuh jemariku seakan ingin melekatkan tangannya
menggenggam tanganku, aku tersenyum kecil. Dia berani! Perjalanan kita terhenti
saat melihat tempat berteduh lengkap dengan tempat duduk. Dia mulai menatapku
lekat, aku sadar dia memperhatikan mimikku dari tadi, seakan tak mau membuatku
bosan dan jenuh. Dia selalu menjaga perasaanku. Aku menghargai itu J
Seakan tak mau waktu berputar kencang, aku mencoba
menghentikan waktu. Tapi nihil, aku tak pernah bisa. Aku hanya tersenyum
memandangnya disaat detik-detik telah berlalu. Anganku selalu meraih mimpi yang
sudah kujaga dari pertama menjalin hubungan dengan pria itu, “aku ingin dialah
yang terakhir!” hatiku berkata lirih. Aku
kaget saat di keluarkannya wadah mungil bewarna merah. Diraihnya tanganku dan
sambil beralih posisi jongkok. Benda itu mulai menampakkan wujudnya. “sayang,
kita bisa melangkah ke jenjang yang lebih serius dengan benda ini” katanya
lembut. Andai aku kembang api, mungkin aku akan meluncur terbang saat dia mulai
mengulurkan cincinnya memasukki jemariku. Ya aku ingin memeluk dia erat-erat
dan tak akan kubiarkan dia lepas.
Masa depanku dan dia hanya Tuhan
yang tahu, manusia berhak mengikat hubungan dengan suatu ikatan, tapi Tuhanlah
yang menyatukan dan merekatkan hingga tak ada manusia atau sesuatu hal yang
memisahkan. Aku ingin “kita, aku dan dia” juga diijinkan Tuhan untuk bersatu, “sekarang
kita memiliki status, suatu saat kita menyatukan janji dan selamanya kita akan
bersatu. Semoga Tuhan mendengarkan doaku ini, andai ada gerbang waktu. Akan ku
gandeng terus kau menuju masa depanku. Ya, bersamamu”
Komentar
Posting Komentar