Langsung ke konten utama

Cinta Tak Bertatap Mata

Aku tak pernah berfikir dengan cepat, akan menggantikan posisi pria yang secara berjalannya waktu sudah lumayan lama menyita senyumku. Entah apa yang membuat aku terus menerus terpaku di masa lalu. Seakan tanganku enggan membuka pintu kebahagiaan dan aku selalu mengijinkan tagis datang. Aku sengaja menikmati kesakitan itu, sampai mata pun lebam menderita karna mengeluarkan tangisan luka. “apa yang sebaiknya aku lakukan? Menutup hati kah? Apa itu bisa menghilangkan luka?” pemikiran itu tampak semu sesaat setelah kedatangan orang yang masih ku anggap awam. Bagaimana bisa, orang di seberang pulau bisa sedikit demi sedikit menyita tangisku? Dia mungkin sengaja didatangkan Tuhan. Mungkin Tuhan lelah mendengar tangisku yang tak kunjung padam.

Aku merasa sedikit aneh tentang kejadian yang sedikit menggelitik ini. “apakah aku salah mulai membuka hati pada orang yang bahkan matanya tak bisa aku tebak? Bagaimana wajahnya? Lalu berapa tingginya? Ahh.. semuanya tampak lucu. Apakah cinta segila ini, bisa di rasakan orang lain selain aku.? Tapi aku pun tak bisa pungkiri hati. Meski otakku belum bisa menerima cinta dan pemikiran konyol itu, itu bukan alasan yang tepat untuk menyembunyikan rasa! Aku ingin segera menghilangkannya, memang hilang. Tapi sedetik kemudian muncul perasaan yang lebih dalam dan hebat. Oh.. hati, apa yang kau mau? Mana bisa aku memungkirimu?  otakku terasa tergelitik oleh pemikiran hati yang mulai tak di mengerti.

Memang nyata adanya jika cinta di sebut orang “rasa yang tak bisa ditebak” itu memang aku rasakan sekarang. Hati yang mulai mengijinkan nama asing masuk. Dia mulai merasuk dihati dan menggerogoti relung hati, yang selalu menangis dulu. Pemikiranku sekarang sudah tak menjadi beban. “cinta bisa hadir bukan hanya karna pernah bertemu, tapi ia bisa hadir karna salah satu makluk atau kedua makluk merasakan kenyamanan dihati”. Setidaknya aku bisa menghapus masa lalu dengan alasan kehadirannya. Aku berharap dia datang bukan untuk memberiku luka, tapi mengambil luka yang diberikan orang yang tidak bertanggung jawab dan menggantinya dengan tawa. Mungkin ini yang terbaik, suatu hari nanti!

Komentar