Cuaca yang sangat mendukungku untuk tidur sebentar lagi.
Tetapi janji sudah menungguku, aku harus jadi orang yang bisa dipercaya! Aku
memaksa tubuhku untuk bangkit dari tempat tidur, meski mata yang enggan untuk
terbuka. mungkin jika sudah mandi aku tidak akan ngantuk lagi.
Pagi itu jam 09:00 WITA aku sudah menunggu di salah satu
restoran yang sudah menjadi tempat aku bertemu dengan seseorang, seperti janji
itu. “hei.. sudah lama menunggu?” Tanya seorang pria yang datang mendekatiku.
“langsung saja pada intinya!” kataku langsung. “kamu gak berubah ya, masih
seperti dulu” kata pria itu memberikan senyum kecilnya. Pria itu memang sudah
mengenalku, dia adalah teman smpku dulu. Memang sudah lama, jika menengok
umurku yang sudah 19 tahun, tapi dia masih saja mengenali sifatku dulu. “hmm
gini.. aku mau minta tolong!” katanya membuka topic baru. “hmm apa?” tanyaku.
“kamu mau gak jadi pacarku? Maksud aku pacar drama aja!” katanya lagi. Aku
tersenyum. “Kau mau membayarku dengan melakukan hal bodoh itu?” tanyaku lagi.
“tentu” jawabnya tersenyum. “hanya di depan temanku saja” katanya lagi. Aku
tersenyum lagi lalu pulang..
***
Seperti kesepakatan kemarin, hari ini aku sudah satu hari
jadi pacarnya! Maksud aku pacar drama. Hari ini pun dia mengajakku untuk
ngumpul sama teman-temannya.
“Ciee.. laku juga lo bro!” kata temannya saat melihat
kehadiran kita. Pria itu hanya membalasnya dengan senyum licik. Aku sekarang
tahu apa alasan dia menjadikanku pacar dramanya! Aku mulai mengobrol dan
memperkenalkan diriku. Mungkin hari ini aku sudah membuka pintu bagi kebohongan
untuk masuk perlahan di hidupku. Aku hanya ingin membantunya sebagai teman.
Beberapa jam kemudian..
“ini bayaran kamu!” katanya sambil menyerahkan amplop tebal
ke hadapanku. “gak usah, aku hanya bercanda tentang bayaran!” kataku langsung
pergi. “eh tapii…” aku tidak menghiraukan kalimat yang belum di teruskan itu.
Aku terus jalan lurus dan menghilang dari pandangannya.
***
Beberapa hari dalam seminggu, ini aku sibuk dengan pria itu.
Meskipun aku tidak di bayar untuk kelelahan ini, tapi entah kenapa aku tak bisa
menolaknya. “eh iya, kamu ingat gak dulu kamu pernah kasih aku surat!” katanya
membuka obrolan. Saat itu aku mulai salah tingkah. “lupain, lama banget itu!”
kataku memukul pundaknya pelan. “tapi itu gak bisa aku lupa! Aku ingat dulu
tuh…” “udah deh!” selaku dengan muka jengkel. “iya iya deh! Jangan ngambek dong
sayang!” katanya merayuku. Entah kenapa jantung ini mulai mempercepat
denyutnya. “aku tidak mau rasa yang dulu ada, muncul lagi!” kataku dalam hati.
“heii.. ngalum aja!” katanya dengan tangannya yang bergoyang di depan mataku.
“eh kamu tahu gak! Waktu itu sebenernya aku mau bales surat
kamu loh!” katanya lagi. “tapi?” tanyaku. “tapi kamu tahu kan waktu itu kamu
juga lagi di taksir kaka aku?” jawabnya. “hah..? kaka kamu?” tanyaku memasang
muka heran. “iya. Emang kamu gak di kasih tahu?” tanyanya lagi. “gak” “hmm..
gini deh! Kalau aku suka kamu gimana?” tanyanya sambil memegang tanganku. “ih
apaan sih!” aku kesal dan melepas tangannya. “kenapa? Kamu udah gak suka aku?”
tanyanya. “bukan gitu! Tapi…” “sttt” wajahnya di dekatkan di wajahku, waktu itu
aku tak sadar mulutku dan dia pun bertemu cukup lama. Saat aku sadar aku
melepasnya dan lari.
***
“apa yang sebenarnya dia mau dari aku?” tanyaku heran.
Mataku yang sedari tadi menghadap ke langit-langit kamarku jadi beruntun menuju
layar hand phoneku yang berbunyi. “halo” “halo” sahutku. “aku mau ketemu, nanti
jam tujuh malam” katanya langsung menutup telfon. “hah! Apa maksudnya?
Seenaknya saja main drama di hati orang!” kataku sebal lalu melempar
handphoneku ke kasur.
Setelah itu..
Aku pun menemuinya, di taman yang tak jauh dari kompleks
rumahku. “apa?” tanyaku singkat. Aku masih sebal dengan kejadian kemarin. “kamu
masih marah?” tanyanya mencoba melihat mataku langsung. “apa kemarin sebagian
dari dramamu?” tanyaku dengan wajah sebal. “apa maksudmu? Tidak mungkinlah itu
drama!” jawabnya langsung. Aku mendengus kesal. Mataku enggan melihat mata yang
bisa membawa perasaanku tak karuan ini. “lihat mataku! Apa kau tak bisa
membedakan mana drama mana keseriusan?” tanyanya. Aku menatapnya, kali ini
dengan lembut. Aku mulai membuka kepercayaan untuknya.
Hari ini aku benar benar jadi pacarnya! Bukan sekedar drama.
Aku merasakan lebih bahagia. Rasa yang muncul kembali sudah kau balas begitu
cepat!
Waktu pun berlalu.. aku mulai menghilangkan dramaku
***
Hari ini aku ke rumahnya. Kabarnya dia sakit, jadi pagi-pagi
aku memutuskan untuk menjenguknya. Sesampainya di rumahnya aku mulai mengetok
pintu. Tapi tak ada balasan. Lalu aku memutuskan untuk masuk. Sesekali aku
memanggil namanya, namun tak ada balsan juga. Aku pun sudah mencari di berbagai
ruangan tapi tak aku temukan. Akhirnya aku memutuskan untuk ke taman belakang
rumahnya. Tunggu “itu siapa?” tanyaku
dalam hati saat melihat pria itu bersama wanita yang barusan aku lihat.
Sepertinya mereka menyadari kehadiranku, matanya pun menoleh ke arahku. Wanita
itu pun langsung memeluknya saat dia ke berlari ke arahku. Namun tangan pria
itu segera melepas pelukan itu dengan gesitnya. Dia mulai berlari mendekat,
tapi aku mencoba mempercepat langkahku keluar rumah.
“dengerin aku dulu!” katanya meraih tanganku. Aku menoleh
dengan wajah muram. Dia tampak khawatir menghadapi moodku yang sudah hilang.
Dia pun menyuruh aku duduk. Aku pun duduk. “dia hanya masa lalu!” jelasnya.
“lalu?” tanyaku. “dan kita masih saling menyayangi!” kata wanita yang barusan
menghampiri kami. “maksudnya apa ini? Apa kalian sudah puas mepermainkan
perasaanku?” tanyaku kesal. “sayang.. bukan itu yang mau aku bilang!” katanya
meraih tanganku lembut. Tapi tanganku menangkisnya dengan cepat. “aku mohon
kamu jangan ikut campur urusanku!” kata pria itu ke wanita itu. Aku hanya bisa
memasang wajah heran. Aku tak mengerti dan tak percaya apa yang terjadi. Tapi
aku memutuskan untuk meninggalkan mereka saat mereka berdebat.
***
Aku masih tak bisa menembus pemikiranku yang hamburadul. Apa
yang terjadi kemarin sudah menyita senyumku. Aku masih tak percaya, apa yang
sebenarnya terjadi! Apa ini semua hanya drama dari kisah cinta? Mata ini pun
mulai mengeluarkan segelintir bebutiran air.
“aku mau bicara!” kata seorang pria yang datang mendekatiku.
Mataku enggan menoleh, aku tahu siapa seseorang itu. Dialah yang buat
perasaanku hamburadul tak karuan. “percaya aku yang. Aku bahkan tak punya rasa
apa-apa untuk dia!” katanya mencoba menyita pandanganku. “rasa sayang itu tak
lengkap jika tak ada kepercayaan!” “jadi aku harus percaya?” tanyaku “tentu.
Sayang, berikan aku satu kepercayaan, akan ku balas kau beribu kepastian!
Pegang kata-kataku sebagai laki-laki” jawabnya. Aku tersenyum dan memeluknya.
“aku percaya kau!” kataku sembari pelukku semakin erat.
Aku percaya pria yang sudah membuat cintaku melunjak takkan
menjadi pria yang tak bertanggung jawab lalu pergi meninggalkan perasaanku
begitu saja!
Komentar
Posting Komentar